Wednesday, March 17, 2010

Doa Senjata Bagi Para Duat



Oleh: Al-Ikhwan.net

Kita sering mendengar ungkapan yang mengatakan: ad-du’a-u silahul mukmin (do’a adalah senjata orang beriman). Ungkapan ini, bukan merupakan hadits nabi saw. Namun, banyak ayat Al Qur’an dan juga sunnah nabi saw yang sahih menjelaskan bahawa ungkapan itu secara makna adalah ungkapan yang sahih. Oleh karena itu, saudara jangan sampai kita melalaikan senjata yang satu ini. Kerana tidak semua orang mampu menggunakannya kecuali orang-orang beriman.

Banyak ayat-ayat Al Qur’an menjelaskan kepada kita, betapa doa adalah kekuatan yang ampuh dan dahsyat, hatta doa digunakan oleh para nabi dan rasul dalam perjalanan dakwah dan jihad mereka.

Kita ingat, kisah tentang nabi Nuh as yang gigih melakukan dakwah siang dan malam secara sembunyi dan terang-terangan. Dakwah yang dilakukan selama sembilan ratus lima puluh tahun. Ternyata masyarakat yang menerima dakwah beliau hanya sedikit saja. Menghadapi keadaan demikian beliau memanjatkan doa kepada Allah swt :

وَقَالَ نُوحٌ رَبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْأَرْضِ مِنَ الْكَافِرِينَ دَيَّارًا. إِنَّكَ إِنْ تَذَرْهُمْ يُضِلُّوا عِبَادَكَ وَلَا يَلِدُوا إِلَّا فَاجِرًا كَفَّارًا
Nuh berkata: “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, nescaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir. (Nuh: 26 – 27)

Demikianlah, kemudian akhirnya kita ketahui Allah swt memang membinasakan seluruh orang-orang kafir itu sesuai dengan doa yang dipanjatkan oleh nabi Nuh as.
Kita juga teringat tentang doa nabi Musa a.s kepada Allah SWT yang ditujukan ke atas Fir’aun dan bala tentaranya. Karena mereka benar-benar melampaui batas dalam kejahatan dan kekejaman dengan menggunakan berbagai macam kekuatan duniawi yang dimilikinya. Saat itu nabi Musa a.s berdo’a:

وَقَالَ مُوسَى رَبَّنَا إِنَّكَ آَتَيْتَ فِرْعَوْنَ وَمَلَأَهُ زِينَةً وَأَمْوَالًا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا رَبَّنَا لِيُضِلُّوا عَنْ سَبِيلِكَ رَبَّنَا اطْمِسْ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَاشْدُدْ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُوا حَتَّى يَرَوُا الْعَذَابَ الْأَلِيمَ
Musa berkata: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir`aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, ya Tuhan kami, akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih”. (Yunus: 88)

Kemudian selanjutnya kita ketahui apa yang menimpa Fir’aun dan bala tentaranya, mereka semua ditenggelamkan Allah swt di lautan. Semua kisah tersebut di atas adalah contoh doa-doa para nabi kepada Allah swt. Doa agar Allah menghancurkan orang-orang yang melampaui batas dalam melakukan penentangan terhadap ajaran Allah swt, para nabi dan rasul-Nya. Terdapat pula contoh lain, yaitu doa para nabi yang mengharapkan agar kaumnya mahu menerima dakwahnya.

Salah satu diantaranya adalah doa nabi Muhammad saw. Doa ketika dakwah baginda kepada orang-orang Thaif disambut dengan lemparan batu dan cacian-cacian yang menyakitkan. Saat itu baginda saw memanjatkan doa kepada Allah swt dengan mengatakan:

اللَّهُمَّ اهْدِ قَوْمِي فَإِنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُوْنَ
“Ya Allah, berikanlah petunjuk dan hidayah kepada mereka, sebab mereka tidak mengetahui”.

Setelah kurang lebih sepuluh tahun kemudian seluruh penduduk Thaif menyatakan masuk Islam, berarti ada jarak kurang lebih 10 tahun antara doa nabi Muhammad saw dengan kenyataan mereka menerima hidayah Allah swt.

Yang menarik, ketika terjadi gelombang pemurtadan pada masa Khalifah Abu Bakr As-Shiddiq di Tanah Arab, orang-orang Thaif tidak termasuk golongan yang murtad. Pemimpin mereka berkata kepada kaumnya: “Wahai kaumku, janganlah kalian murtad, sebab kalian adalah yang paling akhir masuk Islam, maka janganlah kalian menjadi yang pertama dalam kemurtadan!”

Doa juga merupakan rujukan terakhir orang-orang beriman ketika mereka menghadapi berbagai kesulitan dan tentangan besar. Khususnya ketika mereka berjihad di jalan Allah swt.

Kita dapat renungkan bagaimana pasukan Thalut berhadapan dengan pasukan Jalut yang besar dan dahsyat. Ketika itu pasukan mujahidin mukminin melihat betapa besar dan hebatnya kekuatan pasukan Jalut, maka mereka memanjatkan doa kepada Allah swt:

وَلَمَّا بَرَزُوا لِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ قَالُوا رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِين
“Tatkala mereka nampak oleh Jalut dan tentaranya, mereka pun (Thalut dan tentaranya) berdoa: “Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kukuhkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir”. (Al-Baqarah: 250)
Maka, doa itu membuat Allah swt memberikan kemenangan-Nya kepada mereka. Sekalipun jumlah dan peralatan mereka tidak setanding dengan apa yang dimiliki pasukan Jalut, sebagaimana tersebut pada ayat setelahnya.

Doa yang mirip dengan doa pasukan Thalut di atas adalah doa nabi Muhammad saw ketika menghadapi pasukan yang menjadi kekuatan utama musyrikin Makkah, di bawah pimpinan Abu Jahal. Saat itu nabi Muhammad saw terus berdoa kepada Allah swt tiada henti-hentinya, begitu khusyu’ dan seriusnya, hingga selendang (baju penutup tubuh bahagian atas) beliau terjatuh. Baginda memanjatkan doa:

اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لِي مَا وَعَدْتَنِي اللَّهُمَّ آتِ مَا وَعَدْتَنِي اللَّهُمَّ إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الْإِسْلَامِ لَا تُعْبَدْ فِي الْأَرْضِ
“Ya Allah, penuhi dan wujudkan apa yang telah Engkau janjikan kepadaku, ya Allah, berikanlah kepadaku apa yang telah Engkau janjikan kepadaku, ya Allah, jika golongan Islam ini binasa, nescaya Engkau tidak akan disembah lagi di atas bumi ini (Muttafaqun ‘alaih).

Dan sebagaimana yang diabadikan oleh sejarah, pada hari itu Allah swt menghancurkan kekuatan utama musyrikin Makkah.

Keterangan dalam Al Qur’an dan As Sunnah tentang doa:

1. Do’a merupakan perintah dari Allah .

Sangatlah banyak dari ayat-ayat Al Qur’an yang menyebutkan perintah untuk berdo’a kepada-Nya . Diantaranya, firman Allah (artinya):

“Dan Rabb kalian telah berfirman: “Berdoalah kalian kepada-Ku, nescaya akan Aku kabulkan bagi kalian.” (Ghafir: 60)

“Dan berdoalah kepada Allah dengan mengikhlaskan ibadah (doa) kepada-Nya.” (Al A’raf: 29)

“Berdoalah kepada Rabb kalian dengan merendahkan diri dan dengan suara yang lembut.” (Al Jin: 18)

“Dan sesungguhnya Allah memiliki asmaul husna (nama-nama yang mulia), maka berdoalah kepada-Nya dengan menggunakan nama-nama tersebut.” (Al A’raf: 180)

Di dalam ayat-ayat mulia di atas dan yang lainnya menunjukkan bahawa doa merupakan ibadah yang diperintahkan oleh Allah kepada hamba-Nya. Sehingga berdo’a kepada-Nya merupakan bentuk ketaatan kepada-Nya.

2. Doa adalah ibadah.

Berdoa kepada Allah merupakan perkara yang amat dicintai-Nya . Bahkan bila semakin sering berdoa kepada-Nya untuk meminta segala sesuatu yang ia inginkan, semakin bertambah kecintaan Allah kepadanya. Karena setiap doa yang dipanjatkan kepada-Nya, pada hakikatnya (doa) itu adalah ibadah.

Rasulullah bersabda:
الدعاء هو العبادة
“Sesungguhnya doa adalah ibadah” (Tirmidzi)
Bukankah kita semua telah mengetahui bahawa tujuan Allah menciptakan manusia dan jin ini hanyalah untuk beribadah kepada-Nya? Hatta barangsiapa yang memperbanyak doa berarti ia telah memperbanyak ibadah kepada-Nya , dan inilah yang sebenarnya dikehendaki oleh Allah .

Sebagaimana firman-Nya:
“Tidaklah Kami menciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadah kepada-Ku.” (Adz Dzariat: 56)

Demikian juga, Rasulullah telah menegaskan bahwasanya doa merupakan perkara yang paling dicintai dan mulia di sisi-Nya , baginda bersabda:
لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمُ عَلَى اللهِ سُبْحَانَهُ مِنَ الدُّعَاءِ
“Tidak ada sesuatu pun yang lebih mulia di hadapan Allah subhanahu daripada do’a.” (At Tirmidzi)

Mengapa doa itu paling mulia dan paling dicintai oleh Allah ? sebagaimana penjelasan di atas, kerana pada hakikatnya doa itu sendiri adalah ibadah, yang diperintahkan oleh Allah kepada setiap hambanya.

3. Doa merupakan pembuka pintu-pintu rahmat dari Allah .

D’a merupakan pembuka pintu-pintu rahmat Allah yang sangat diperlukan oleh setiap hamba. Kerana dengan rahmat-Nyalah kita mendapat hidayah Islam dan Iman, serta mendapat pula keampunan dari dosa-dosa yang telah kita lakukan.

Rasulullah bersabda:
منْ فُتِحَ لَهُ مِنْكُمْ بَابُ الدُّعَاءِ فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الرَّحْمَةِ وَمَا سُئِلَ اللهُ شَيْئًا يُعْطَىأَحَبُّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يُسْأَلَ الْعَافِيَةَ ، إِنَّ الدُّعَاءَ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ فَعَلَيْكُمْ عِبَادَ اللهِ بِالدُّعَاء
“Barangsiapa di antara kalian yang dibukakan baginya pintu doa, nescaya ia akan dibukakan baginya pintu-pintu rahmat. Dan tidaklah Allah dimintai sesuatu yang lebih Allah cintai dari meminta keselamatan (di dunia dan akhirat). Sesungguhnya doa itu bermanfaat pada hal-hal yang sudah terjadi ataupun yang belum terjadi, maka hendaklah berdoa wahai hamba-hamba Allah.” (At-Tirmidzi)

4. Doa merupakan akhlak orang-orang yang bertaqwa.

Allah telah mengisahkan tentang akhlak para nabi yang selalu bersegera untuk berdoa kepada-Nya . Sebagaimana firman-Nya:

“Sesungguhnya mereka (para nabi) selalu segera melakukan kebaikan dan selalu berdoa kepada Kami dalam keadaan penuh harap dan rasa takut, dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ (di dalam beribadah/berdoa kepada Kami).” (Al Anbiya’: 90)

Demikian pula Allah menyebutkan tentang akhlak hamba-hambanya yang salih, sebagaimana firman-Nya::
“Dan orang-orang (generasi) yang datang sesudah mereka (sahabat) berkata: “Wahai Rabb-kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam keimanan, dan janganlah Engkau jadikan di dalam hati-hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Rabb-kami sesunggunya Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (Al Hasyr: 10)

5. Doa menunjukkan kemurnian tawakal kepada Allah .

Rahsia dan hakikat tawakal kepada Allah adalah mengantungkan hati sepenuhnya kepada Allah . Manakala ia berdoa dengan penuh harap dan rasa takut hanya kepada Allah menunjukkan kemurnian tawakalnya kepada-Nya. Dan sekaligus doa itu sendiri merupakan salah satu sebab terbesar tercapainya apa yang ia inginkan. Perhatikanlah firman Allah:

“Maka beribadahlah kalian kepada Allah dan bertawakkallah kepada-Nya.” (Hud: 123)
Di dalam ayat yang mulia ini Allah memerintahkan untuk bertawakal setelah beribadah kepada-Nya . Padahal kita telah tahu bahawa doa itu adalah ibadah, sebagaimana penjelasan di atas. Sehingga ayat tersebut dapat diambil kesimpulan iaitu berdoalah kepada Allah terlebih dahulu, kemudian baru bertawakallah kepada-Nya.

6. Setiap doa mendapat jaminan dari Allah selama tidak tergesa-gesa.

Rasulullah bersabda:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو لَيْسَ بِإِثْمٍ وَلاَ قَطِيْعَةِ رَحْمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللهُ إِحْدَى ثَلاَثٍ أَنْ يُعَجِّلَ لَهُ دَعْوَتَهُ وَإِمَّا أَنْ يُدَخِّرَهَا لَهُ فٍي الآخِرَةِ وَإِمَّا أَنْ يَدْفَعَ عَنْهُ مِنَ السُّوء مِثْلَهَا
“Tidaklah seorang muslim berdoa dengan sesuatu yang bukan untuk suatu dosa atau memutuskan silaturrahmi melainkan pasti Allah akan memberikan salah satu dari tiga hal; disegerakan baginya pengabulannya, disimpan baginya di akhirat, atau dihindarkan darinya keburukan yang semisal dengannya.” (Shahih Al Adabul Mufrad no. 547, dari sahabat Abu Sa’id Al Khudri )

Dalam riwayat yang lainnya, Rasulullah bersabda:

“Tidaklah seorang mukmin menghadapkan wajahnya kepada Allah memohon sesuatu, melainkan Dia akan memberikan, apakah dengan menyegerakan baginya di dunia atau menyimpan baginya di akhirat selama ia tidak tergesa-gesa.” Para sahabat bertanya: “Apa maksud dari tergesa-gesa?” Baginda menjawab: “Dia berkata: “Saya sudah berdo’a dan berdo’a, tetapi juga tidak dikabulkan.” (H.R. Ahmad, lihat Shahih Al Adabul Mufrad no. 548)

Kedua hadits di atas menunjukkan bahwa doa seorang muslim tidaklah sia-sia. Al Hafiz Ibnu Hajar Al Asqalani berkata: “Setiap orang yang berdoa akan dikabulkan, hanya pengabulan itu berbeza-beza. Kadang-kadang dikabulkan sesuai dengan permintaan, kadang-kadang diganti dengan sesuatu yang lain. (Fathul Bari 10/95) Sehingga doa itu boleh jadi dikabulkan sesuai dengan permohonannya, boleh jadi pula disimpan atau diganti yang lainnya sebagai bentuk kemurahan dari Allah , selama ia tidak tergesa-gesa. Karena sifat tergesa-gesa akan menimbulkan sikap buruk sangka kepada Allah .

Allah memiliki sifat Yang Maha Hikmah. Dia mengetahui apa yang terbaik bagi hambanya, berbeda dengan manusia yang tidak mengetahui akibat urusannya. Kadang-kadang manusia mencintai dan menginginkan sesuatu, padahal hal itu boleh menambah keburukan baginya atau sebaliknya. Sebagaimana yang telah diterangkan di dalam firman Allah (artinya):

“Boleh jadi kalian membenci sesuatu padahal itu adalah amat baik bagi kalian, boleh jadi pula kalian menyukai sesuatu padahal itu adalah amat buruk bagi kalian. Allah yang mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahuinya.” (Al Baqarah: 216)

Bukan berarti tidak dikabulkannya doa menunjukkan hinanya orang yang berdoa secara mutlak. Dan dikabulkannya doa juga tidak menunjukkan baiknya orang yang berdoa secara mutlak. Bukankah Allah mengabulkan permintaan iblis dengan memberi tangguh sampai hari kiamat? Tetapi itu tidak menunjukan pemulian kepada iblis, justeru itu sebagai penghinaan kepadanya agar dosanya bertambah, sehingga semakin berat siksaan dan semakin berlipat ganda kesengsaraan di akhirat nanti.

Waspada dari kelalaian berdoa kepada Allah

Setelah kita tahu tingginya kedudukan dan keutamaan doa di sisi Allah , kita pun akan tahu pula tentang kerugian besar yang akan dialami oleh orang-orang yang cenderung mengabaikan dan melalaikan dari berdoa kepada Allah, iaitu;

1. Enggan dan lalai dari do’a tanda kesombongan pada dirinya.

Teliti dan perhatikanlah firman Allah (artinya):
“Dan Rabb kalian telah berfirman: “Berdoalah kalian kepada-Ku, nescaya akan Aku kabulkan bagi kalian, sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan dirinya dari beribadah (berdoa) kepada-Ku akan masuk jahannam dalam keadaan hina.” (Ghafir: 60)
Di dalam ayat yang mulia ini Allah juga menjelaskan bahawa doa itu pada hakikatnya adalah ibadah, sehingga mengabaikan dan malalaikan dari berdoa kepada-Nya merupakan tanda kesombongan pada dirinya kerana ia tidak mahu berdoa kepada penciptanya dan pencipta seluruh alam semesta, pemberi rezeki seluruh makhluk, yang menghidupkan dan yang mematikan, Dia-lah Allah Yang Maha Kaya dan Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sedangkan ia adalah hamba yang lemah yang tidak mampu bergerak, berkata ataupun berbuat melainkan hanya dengan rahmat, kehendak, dan kekuasaan-Nya.

Allah berfirman (artinya):
“Wahai manusia, kalian adalah hamba-hamba yang faqir, yang (mesti) memerlukan Allah (dalam segala sesuatu). Dan Allah adalah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (Fathir: 15)

2. Enggan dan lalai dari berdo’a kepada Allah tanda kelemahan pada dirinya.

Rasulullah bersabda:
أَعْجَزُ النَّاسِ مَنْ عَجِزَ عَنِ الدُّعَاءِ وَأَبْخَلُ النَّاسِ مَنْ بَخِلَ بِالسَّلاَمِ
“Manusia yang paling lemah adalah orang yang paling lemah dalam berdoa dan manusia yang paling bakhil adalah orang yang bakhil dalam mengucapkan salam.” (Ibnu Hibban, lihat Ash Shahihah no. 154)

3. Enggan dan lalai dari do’a akan mendapat kemurkaan dari Allah .

Rasulullah bersabda:
مَنْ لَمْ يَدْعُ اللهَ وَفِي رِوَايَةٍ لَمْ يَسْأَلِ اللهَ سُبْحَانَهُ غَضِبَ عَلَيْهِ
“Barangsiapa yang tidak mahu berdoa (dalam riwayat lain: tidak mhau meminta) kepada Allah SWT, nescaya Allah memurkainya.” (At Tirmidzi no. 3372, Ibnu Majah no. 3827 dari sahabat Abu Hurairah , lihat Ash Shahihah no. 3654)

Kedua hadits di atas juga menguatkan bahawa orang yang enggan dan lalai dari berdoa merupakan tanda kesombongan pada dirinya, kerana tidak menyedari dirinya adalah makhluk yang lemah. Sehingga melayakkan Allah murka kepada orang-orang yang enggan dan lalai dari berdoa kepada-Nya .

Waallhu a’lam bish-showwab.
Al-faqir illalloh, Ummu ANas.6/11/09 (diambil dari berbagai sumber).

Petikan asal dari http://www.al-ikhwan.net/urgensi-do%E2%80%99a-bagi-seorang-mukmin-3491/
Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 ulasan

Sila berikan komen anda

 
© 2011 Zadud-Duat | 2012 Templates
Designed by BlogThietKe Cooperated with Duy Pham
Released under Creative Commons 3.0 CC BY-NC 3.0
Posts RSSComments RSS
Back to top